Kamis, 03 Januari 2019

Peluang dan Tantangan Bisnis Kuliner di Era Digital

[RE-POST] Tren bisnis kuliner kekinian terus mendulang peminat. Selain  karena faktor makanan sebagai kebutuhan dasar yang selalu dicari, perkembangan teknologi juga menjadi salah satu faktor yang menentukan sukses tidaknya suatu bisnis kuliner.

Tingginya penetrasi Internet dan pengguna ponsel di Indonesia telah membuka lebar pintu peluang bisnis secara daring seperti kehadiran pemain e-commerce dan marketplace yang semakin banyak di Tanah Air. Tak terkecuali bisnis kuliner.

Kehadiran teknologi digital membawa banyak peluang bagi bisnis kuliner. Media sosial misalnya, yang memiliki potensi untuk memasarkan produk secara efektif, bahkan lebih efektif dibandingkan dengan model pemasaran lama terutama iklan fisik/offline. Penguasaan teknologi menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki pelaku bisnis.

Para pelaku bisnis kuliner berlomba-lomba menyuguhkan kuliner semenarik dan seunik mungkin demi mendapat perhatian lebih dari generasi muda. Pasalnya, jika sudah mendapat perhatian di dunia maya atau dengan kata lain menjadi viral, otomatis proses pemasaran akan meningkat pesat dan kuliner yang dipasarkan pun menjadi serbuan masyarakat yang penasaran.

Berbagai inovasi dan promosi dilancarkan oleh pelaku bisnis kuliner. Mulai dari memberikan nama makanan yang unik dan ear-catching seperti Mi Setan, Jus Bunuh Diri, dan sebagainya; menciptakan menu baru seperti mie yang dapat berubah warna atau kebab hitam; hingga semata-mata mengikuti tren makanan terkini seperti penggunaan saus salted egg pada menu yang sudah ada. Semua inovasi ini kemudian dikampanyekan melalui media sosial hingga menjadi viral.

Selain media sosial, tren startup yang tengah naik daun di Indonesia juga melahirkan inovasi-inovasi baru, terutama dalam pembuatan aplikasi untuk mengatasi permasalahan tertentu. Di bidang kuliner, salah satu contoh aplikasi yang sedang menjadi sorotan adalah Wakuliner, yang merupakan singkatan dari Wadah Kuliner. Aplikasi ini menyediakan beragam jenis kuliner yang dapat diakses melalui smartphone dan menggunakan sistem operasi Android dan iOS.

Saat ini sudah ada sekitar 3.600 merchant Wakuliner yang tersebar di 60 kota, di antaranya Jabodetabek, Bandung, Bali, Solo, Surabaya, Palembang, hingga Makassar. Yang menjadi daya tarik Wakuliner ialah aplikasi ini tidak mengambil komisi maupun biaya pendaftaran apapun untuk merchants yang dan berjualan di platform-nya.

Berbagai kenyamanan teknologi ini tentu juga menguntungkan bagi pembeli. Kini, masyarakat memiliki pilihan kuliner yang nyaris tak terbatas, tidak hanya yang berjarak dekat dengan tempat tinggal, tetapi juga jarak jauh. Munculnya berbagai aplikasi ojek online yang bekerja sama dengan berbagai merchant telah menjadi batu loncatan bagi sistem distribusi (delivery) makanan.

Pembeli cukup menggerakkan jari di atas layar gawai untuk memilih dan memesan menu yang diinginkan, lalu menunggu makanan diantar ke rumah tanpa harus repot menerjang lalu lintas dan mengantre dilayani di tempat makan. Selain tidak harus bersusah payah keluar rumah, metode pembayaran yang tersedia pun beragam, mulai dari pilihan bayar tunai (COD), bank transfer dengan virtual account, penggunaan sistem redeem poin, hingga kartu kredit. Segala kemudahan ini tentu turut menaikkan omzet pelaku bisnis kuliner.

Meskipun begitu, perkembangan teknologi digital juga membawa tantangan tersendiri. Menurut CEO Wakuliner Anthony Gunawan, untuk meminimalkan kejadian yang tidak diinginkan, bisnis kuliner digital hendaknya menyediakan layanan call center selama 24 jam untuk memastikan pengiriman pesanan sesuai waktu yang telah diestimasi.

Selain itu, ia mengatakan bahwa faktor biaya menjadi tantangan utama bagi para merchant yang ingin memulai bisnis kulinernya. Tantangan lainnya adalah masalah biaya. Banyak orang yang cari free ongkir (ongkos kirim) dan harga makanan murah. Banyak yang lebih memilih itu daripada rasa makannya. Ini jadi tantangan bagi kami maupun merchant, untuk memberi harga yang kompetitif,” paparnya.

Bisnis kuliner harus mampu menyiapkan ‘365 hari per tahun’, dukungan teknis dan call center untuk memantau dan melayani semua pesanan. Dalam hal ada masalah dengan suatu pesanan, seperti restoran yang tutup, menu habis, dan lainnya, pembeli tidak akan menunggu lama untuk mengetahuinya.

Kendala biaya antar yang sama juga dialami aktor Baim Wong, yang turut menjadi pelaku bisnis dengan membuka usaha mi ayam bernama Mie and You di daerah Bintaro, Jakarta Selatan. Baim merasakan tantangan berbisnis di era serba digital, terutama pemesanan makanan melalui ojek online yang sedang banyak digandrungi.

"Mungkin orang-orang tidak tahu, tapi kan (ojek online) mengambil 15 persen dari gross restoran ya. Kalau kita sebagai customer kan ya kita senang saja diantarkan makanan, tapi kalau dari segi (pemilik) restorannya lumayan tinggi sekali biayanya," kata Baim.

Berbagai faktor dari adanya teknologi digital di atas menuntut kreativitas pelaku bisnis kuliner untuk menangkap peluang dan menaklukkan tantangan bisnis di era digital. Seperti bidang bisnis lainnya, risiko bagi bisnis kuliner tentu ada sehingga perlu ada usaha optimalisasi teknologi digital agar keuntungan yang didapatkan sebanding dengan risiko yang diambil.

Source : https://www.selasar.com/jurnal/40051/Peluang-dan-Tantangan-Bisnis-Kuliner-di-Era-Digital 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

loading...